Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj Pertanda Dekatnya Hari Kiamat

Oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Syariah, Hadits, 12 – Maret – 2008, 05:52:41

Dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dari tidurnya seraya berkata: “La ilaha illallah, celakalah orang-orang Arab, karena keburukan yang telah dekat. Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj seperti ini.” –dan Sufyan (seorang perawi) melingkarkan tangannya dalam bentuk angka sepuluh– Kemudian saya (Zainab) berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, ketika al-khabats semakin banyak jumlahnya.” عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَهُوَ يَقُولُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ -وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشَرَةً-. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. 26145, 26148; Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3346, Kitabul Manaqib no. 3598, Kitab Ath-Thalaq secara mu’allaq, Kitabul Fitan no. 7059, 7135; Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul Fitan wa ‘Asyrathus Sa’ah no. 7164-7168; Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Kitabul Fitan ‘an Rasulillah no. 2187; Al-Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabul Fitan no. 3953.

Jalur Periwayatan Hadits
Hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan no. 7059.
Adapun riwayat dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha, terjadi perselisihan dalam jalur periwayatannya. Para rawi murid-murid Sufyan bin ‘Uyainah yang meriwayatkan dari beliau seperti ‘Amr bin Muhammad An-Naqid (dalam Shahih Muslim), Malik bin Isma’il (dalam Shahih Al-Bukhari), Sa’id bin Manshur (dalam Sunan-nya), Qutaibah dan Harun bin Abdillah (dalam riwayat Al-Isma’ili), Al-Qa’nabi (dalam riwayat Abu Nu’aim dan Musnad Musaddad), meriwayatkan hadits ini tanpa menyebutkan tambahan rawi Habibah bintu Ummu Habibah1.
Dalam Shahih Al-Bukhari terdapat riwayat dari ‘Uqail bin Khalid Al-Aili, Syu’aib bin Abi Hamzah Al-Umawi, Muhammad bin Abi ‘Atiq, semuanya meriwayatkan dari Az-Zuhri dan tidak ada dalam sanadnya penyebutan Habibah bintu Ummu Habibah.
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari jalan Yunus bin Yazid Al-Aili, ‘Uqail bin Khalid, dan Shalih bin Kaisan, semuanya dari Az-Zuhri, tanpa menyebutkan Habibah.
Sementara pada riwayat yang lain, Al-Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Abu Bakr bin Abi Syaibah, Sa’id bin ‘Amr Al-Asy’atsi, Zuhair bin Harb, Muhammad bin Yahya bin Abi ‘Umar. Keempat rawi ini semuanya meriwayatkan dari Sufyan, dari Az-Zuhri. Al-Imam Muslim berkata: “Dalam meriwayatkannya, mereka menambahkan seorang rawi yang bernama Habibah bintu Ummu Habibah, dari Ummu Habibah.”
Al-Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Sa’id bin Abdirrahman, Muhammad bin Ahmad Al-Qaisi, Abdullah bin Az-Zubair Al-Qurasyi, ‘Ali bin Abdillah Al-Bashri, semuanya dari Sufyan bin ‘Uyainah. Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sufyan telah membaguskan (periwayatan) hadits ini.”
Abu Nu’aim juga meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustakhraj, dari jalan Al-Humaidi. Beliau berkata dalam riwayatnya: “Dari Habibah bintu Ummu Habibah, dari ibunya (Ummu Habibah)” Dan disebutkan di akhir perkataan beliau: “Sufyan telah berkata: Aku menghafal (mendapatkan) hadits ini dari Az-Zuhri, ada empat orang wanita, semuanya telah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua dari istrinya, yaitu Ummu Habibah dan Zainab bintu Jahsyin, dan dua rabibah (anak tiri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yaitu Zainab bintu Abi Salamah dan Habibah bintu Ummu Habibah.”
Al-Imam An-Nasa`i meriwayatkan dari jalan Ubaidullah bin Sa’id, sedangkan Al-Imam Ibnu Majah dari jalan Abu Bakr bin Abi Syaibah, Al-Isma’ili dari riwayat Al-Aswad bin ‘Amir; mereka semua meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah dan menambahkan Habibah dalam meriwayatkannya.

Al-Isma’ili meriwayatkan dari jalan Harun bin Abdillah, ia berkata: “Al-Aswad bin ‘Amir telah berkata kepadaku: Bagaimana hadits ini dihafal dari Ibnu ‘Uyainah? Kemudian beliau Ibnu ‘Uyainah menyebutkan kepada Al-Aswad bin ‘Amir riwayat yang tidak terdapat padanya Habibah dan beliau berkata: “Akan tetapi Az-Zuhri telah memberitakan kepada kami dari Urwah, dari empat wanita, semuanya telah berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian mereka dari yang sebagian lain.”
Al-Imam Ad-Daraquthni berkata: “Saya mengira bahwa Sufyan terkadang meriwayatkan hadits ini dengan menyebut Habibah dan terkadang tidak menyebutnya.”
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Pada sanad hadits di atas terkumpul empat shahabiyah, dua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummu Habibah dan Zainab bintu Jahsyin) dan dua anak tiri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Zainab bintu Ummu Salamah dan Habibah bintu Ummu Habibah). Sebagian mereka meriwayatkan dari sebagian yang lain. Dan saya tidak mengetahui ada sebuah hadits yang terkumpul padanya empat shahabiyah yang sebagian meriwayatkan dari sebagian yang lain kecuali hadits ini.” (Lihat Fathul Bari, 13/15-16 cet. Darul Hadits, Al-Minhaj, 18/211-213)

Makna Hadits

“Bangun dari tidurnya.” Pada riwayat yang lain terdapat tambahan: مُحْمَرًّا وَجْهُهُ (memerah wajahnya). Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada suatu hari dalam keadaan terkejut dan memerah wajahnya. Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Yang menyebabkan memerahnya wajah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena keterkejutannya.”

“Celakalah orang-orang Arab dari keburukan yang telah dekat.” Dalam hadits ini disebutkan orang Arab secara khusus karena waktu itu merekalah yang paling banyak memeluk agama Islam. Adapun yang dimaksud dengan keburukan yaitu apa yang terjadi sepeninggal beliau berupa pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu yang disusul fitnah-fitnah berikutnya. Sehingga keadaan orang-orang Arab di antara umat manusia seperti santapan yang diperebutkan. Al-Qurthubi berkata: “Kemungkinan, maksud keburukan di sini adalah apa yang diisyaratkan dalam hadits Ummu Salamah: ‘Apa gerangan fitnah-fitnah yang turun pada malam hari ini? Dan apa gerangan perbendaharaan Allah yang turun?’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengisyaratkan penaklukan negeri-negeri sehingga berlimpah ruahlah harta di tangan mereka, sehingga terjadilah saling berlomba yang menghantarkan kepada fitnah.”

“Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj.” Yang dimaksud dengan الرَّدْمُ artinya السَّدُ yaitu dinding yang dibangun oleh Dzulqarnain. Al-Kasa`i berkata: “Huruf sin di sini boleh di-dhammah (السُّدُ) atau di-fathah (السَّدُ) dan maknanya sama.” Abu ‘Amr ibnul ‘Ala` berkata: “Apabila dinding itu ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dengan men-dhammah, dan apabila buatan bani Adam maka dengan mem-fathah.” مِنْ نَوْمِهِ اسْتَيْقَظَ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ

Ya`juj wa Ma`juj adalah dari bani Adam. Mereka adalah dua kabilah (bangsa) dari anak keturunan Yafits bin Nuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah Wahb dan selainnya.
Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya mengisyaratkan sebuah cerita bahwa ada yang berkata (yakni Ka’b Al-Ahbar): “Mereka dari anak Adam dari selain Hawa (red). Nabi Adam ‘alaihissalam tidur lalu mimpi basah dan tercampurlah air maninya dengan tanah dan lahirlah darinya Ya`juj dan Ma`juj.” Al-Hafizh berkata: “Ini adalah pendapat yang sangat mungkar. Tidak ada asal-usulnya kecuali dari ahli kitab.”
Disebutkan juga dalam fatwa Asy-Syaikh Muhyiddin bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Adam namun bukan dari Hawa, dan itulah pendapat jumhur ulama, sehingga mereka itu saudara kita sebapak. Al-Hafizh menyatakan: “Kami tidak mengetahui pendapat ini dari seorang ulama salaf kecuali Ka’b Al-Ahbar. Dan hal ini terbantah dengan hadits marfu’ yang menyebutkan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Nuh, sedangkan Nuh –tidak dipungkiri lagi– adalah keturunan Adam dan Hawa.
Ada juga yang berpendapat bahwa mereka dari bangsa At-Turk2. Di antara yang berpendapat demikian adalah Adh-Dhahhak. Ada pula yang menyatakan bahwa Ya`juj dari bangsa At-Turk sedangkan Ma`juj dari Ad-Dailam.
Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Telah disebutkan satu riwayat bahwa seorang nabi tidaklah mimpi basah. Maka bagaimana dikatakan Ya`juj dan Ma`juj berasal dari perpaduan air mani Nabi Adam ‘alaihissalam dengan tanah? Jawabannya, riwayat yang menyatakan bahwa seorang nabi tidak mimpi basah ialah bahwa seorang nabi tidak melihat dalam tidurnya bersetubuh. Sehingga kemungkinan yang terjadi adalah terpancarnya air mani saja. Dan yang seperti ini dimungkinkan sebagaimana kencing. Pendapat pertama yang kuat untuk dijadikan pegangan. Kalau tidak, di manakah keberadaan mereka saat terjadinya banjir besar (yang menimpa kaum Nuh ‘alaihissalam)?”

Kebanyakan pendapat menyatakan bahwa nama Ya`juj dan Ma`juj merupakan nama ‘ajam (bukan dari bahasa Arab), walaupun ada yang menyatakannya berasal dari bahasa Arab. Dari pendapat yang menyatakan kedua lafadz ini dari bahasa Arab, terjadi perselisihan terhadap asal kata Ya`juj dan Ma`juj. Ada yang mengatakan dari kata أَجِيْجُ النَّارِ yaitu nyala/jilatan api (bergejolak). Ada yang mengatakan dari kata الْأَجَّةُ yaitu bercampur atau sangat panas. Ada pula yang mengatakan dari kata الْأَجُّ yaitu yang cepat larinya. Yang lain mengatakan dari الْأُجَاجُ yaitu air yang sangat asin.
Wazan (timbangan kata dalam bahasa Arab) Ya`juj dan Ma`juj adalah يَفْعُولُ وَمَفْعُولُ dan inilah yang nampak dari qiraah ‘Ashim dan yang lainnya. Ada yang mengatakan فَاعُولُ dari يَجَّ dan مَجَّ sehingga dibaca يَاجُوجُ مَاجُوجُ. Ada yang mengatakan kata مَاجُوجُ berasal dari kata مَاجَ yaitu bergerak. Dan semua asal kata yang disebutkan di atas sesuai dengan keadaan mereka.
Pendapat yang menyatakan bahwa ia berasal dari kata: مَاجَ yaitu bergerak, dikuatkan oleh ayat:

“Kami biarkan mereka (Ya`juj dan Ma`juj) di hari itu bercampur-aduk antara satu dengan yang lain.” (Al-Kahfi: 99)
Hal itu terjadi ketika mereka keluar dari dalam dinding.
Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan Ibnu Mardawaih dari hadits Hudzaifah yang menyebutkan sifat mereka bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya`juj itu umat dan Ma`juj itu umat. Setiap umat terdapat 400 ribu orang. Tidaklah meninggal salah seorang dari mereka hingga melihat seribu laki-laki dari keturunannya, semuanya telah bersenjata.”
Al-Hafizh menyatakan hadits ini maudhu’ (palsu). Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Mungkar, dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Yahya bin Sa’id Al-‘Aththar, dia adalah seorang yang sangat lemah. Namun pada sebagian jalan terdapat penguat yang shahih, seperti pada riwayat Ibnu Hibban dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya keturunan yang ditinggalkan salah seorang dari Ya`juj dan Ma`juj paling sedikit seribu orang.”
Al-Hakim meriwayatkan dari Abul Jauza` Aus bin Abdillah Ar-Raba’i Al-Bashri dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Ya`juj dan Ma`juj sejengkal-sejengkal, dua jengkal dua jengkal, dan yang paling tinggi tiga jengkal, dan mereka adalah anak keturunan Adam. (Fathul Bari, 13/130-131)

“Sufyan melingkarkan jari membentuk angka sepuluh.” Pada sebagian riwayat dari Yunus dari Az-Zuhri tanpa menyebutkan melingkarkan kedua jarinya, yaitu ibu jari dengan yang setelahnya (jari telunjuk). Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu terdapat tambahan: “Dan Wuhaib melingkarkan tangannya membentuk angka sembilan puluh.”
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Adapun riwayat Sufyan dan Yunus, pada keduanya terjadi kesesuaian dalam hal makna. Adapun riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyelisihi, karena bentuk lingkaran sembilan puluh lebih sempit daripada sepuluh.” Al-Qadhi berkata: “Kemungkinan, hadits Abu Hurairah lebih dahulu. Atau yang dimaksud dengan dekat di sini hanyalah sebagai permisalan dan bukan hakikat pembatasan.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Makna membentuk lingkaran sepuluh yaitu dengan meletakkan ujung telunjuk jari yang kanan pada ruas bagian atas ibu jari bagian dalam. Adapun membentuk lingkaran sembilan puluh yaitu dengan meletakkan ujung telunjuk jari kanan pada pangkalnya. Ibnu At-Tin menukilkan dari Ad-Dawudi bahwa caranya adalah dengan meletakkan telunjuk jari pada pertengahan ibu jari.”

“Apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih?” Pada sebagian riwayat terdapat lafadz: Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzab kami.”
Lafadz “bersama kita ada orang-orang shalih” seolah-olah ini diambil dari ayat:

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka selama engkau (Muhammad) ada di antara mereka.” (Al-Anfal: 33)

“Ketika al-khabats semakin banyak jumlahnya.” Jumhur ulama menafsirkannya dengan makna kefasikan dan kejahatan. Ada yang berpendapat maknanya adalah zina secara khusus. Pendapat lain mengatakan: anak-anak zina. Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Yang nampak dalam hal ini adalah kemaksiatan secara mutlak.”
Ibnul ‘Arabi berkata: “Lafadz ini menjelaskan bahwa orang yang baik bisa binasa dengan binasanya orang yang buruk, apabila orang yang jelek itu tidak diubah. Atau apabila diubah namun tidak bermanfaat dan orang yang buruk itu terus melakukan amalan jeleknya. Hingga hal itu tersebar dan semakin banyak, sehingga kerusakan merata. Di saat itulah kebinasaan menimpa kepada yang sedikit maupun yang banyak, kemudian masing-masing akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya. Seolah-olah dipahami dari terbukanya dinding seukuran yang disebutkan, apabila terus terjadi maka lubang itu menjadi lebar di mana mereka (Ya`juj dan Ma`juj) dapat keluar. Lafadz ini juga menunjukkan bahwa dia (Zainab) mengetahui bahwa keluarnya Ya`juj dan Ma`juj pada manusia akan menjadi sebab kebinasaan hidup manusia secara keseluruhan.” (Fathul Bari, 13/134) وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشَرَةً أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Keluarnya Ya`juj dan Ma`juj adalah perkara yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hingga apabila dibukakan tembok (dinding) Ya`juj dan Ma`juj serta mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit).” (Al-Anbiya: 96-97)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kiamat tidak akan tiba sampai kalian melihat sepuluh tanda. Kemudian beliau menyebutkan asap, dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam, keluarnya Ya`juj dan Ma`juj, tiga khusuf: di timur, barat, dan di jazirah arab, yang terakhir (kesepuluh) keluarnya api dari Yaman menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. (2901)(39) dari hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)
Keluarnya mereka –yang merupakan tanda hari kiamat– belumlah terjadi sekarang, namun tanda-tanda keluarnya telah ada sejak jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Telah mulai terbuka hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj sebesar (lubang) ini.” Rasulullah membuat lingkaran dengan dua jarinya, ibu jari dan jari telunjuk. (HR. Al-Bukhari dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha) [Lum’atul ‘Itiqad, hal. 108-109]
Wallahu a‘lam bish-shawab. حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ. وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ -فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعَيْهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا

1 Habibah bintu Ummu Habibah ini adalah Habibah bintu Ubaidullah bin Jahsyin. Beliau termasuk yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Ayahnya beragama Nasrani dan meninggal di Habasyah. Sedangkan ibunya (Ummu Habibah) tetap memeluk Islam dan kemudian dinikahi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau menjadi anak tiri (rabibah) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus sebagai keponakan Zainab. Karena Zainab bintu Jahsyin adalah saudara kandung ayah Habibah, maka (Zainab bintu Jahsyin) adalah bibi Habibah dari pihak ayah (‘ammah).
2 Bangsa yang berbahasa Turk di dunia ini adalah hampir seluruh bangsa yang mendiami wilayah Asia Tengah (Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, dll), Turki, Azerbaijan, sebagian Rusia, sebagian Cina, dan sebagian Moldova.

Sumber : http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=595

Ya’juj dan Ma’juj Sudah Muncul?

Oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Ya`juj dan Ma`juj, bangsa yang nanti akan muncul menjelang hari kiamat memang sudah ada sekarang di sebuah wilayah yang dipagari oleh sebuah “benteng”. Namun benarkah mereka telah berhasil menembus dinding besi dan tembaga yang mengisolir mereka selama ini kemudian mewujud dalam bangsa yang mendiami wilayah Rusia dan negara-negara pecahan Soviet di Asia Tengah dan sebagian Eropa? Dan benarkah mereka adalah bangsa Mongol (Tartar)?

Asyrathus Sa’ah (أَشْرَاطُ السَّاعَةِ) mengandung pengertian asy-syarthu (الشَّرْطُ) yang bermakna tanda (al-‘alamah). Bentuk jamaknya asyrath (أَشْرَاطٌ). Tanda sesuatu adalah permulaannya. Misal, seorang komandan, berarti dia adalah orang yang di depan memimpin pasukan (bawahannya). Sedangkan kata as-sa’ah (السَّاعَةُ) secara bahasa memiliki makna satu bagian dari bagian-bagian malam dan siang. Bentuk jamaknya sa’at (سَاعَاتٌ) dan sa’a (سَاعَ). As-Sa’ah menurut istilah syar’i yaitu waktu terjadinya kiamat. Disebut kiamat lantaran cepatnya hisab pada hari itu, atau pada waktu itu manusia terkejut dalam hentakan sesaat, kemudian semua mengalami kematian dalam satu tiupan. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, Lisanul ‘Arab, dan Al-Qamus Al-Muhith. Lihat Asyrathus Sa’ah, karya Yusuf Al-Wabil)

Maka, Asyrathus Sa’ah adalah tanda-tanda kiamat yang mendahului tibanya (hari kiamat) serta menunjukkan akan dekatnya.

Tanda-tanda kiamat terbagi menjadi dua bagian, yaitu asyrath shughra, yaitu tanda-tanda yang mendahului kiamat dalam rentang waktu yang panjang, seperti pudarnya ilmu (di tengah kehidupan umat, pent.), berkembangnya kebodohan (terhadap agama), merebaknya minuman keras, banyaknya bangunan bertingkat, dan lain-lain. Adapun yang kedua, yaitu asyrath kubra. Ini merupakan tanda-tanda yang berupa kejadian-kejadian besar yang terjadi menjelang hari kiamat. Apa yang terjadi merupakan peristiwa-peristiwa yang luar biasa, seperti kemunculan Dajjal, turunnya Isa ‘alaihissalam, keluarnya Ya`juj dan Ma`juj, serta terbitnya matahari dari barat. (Asyrathus Sa’ah, karya Yusuf Al-Wabil)

Al-Qur`an mengungkap fenomena kemunculan Ya`juj dan Ma`juj sebagai bagian dari kejadian-kejadian menjelang hari kiamat.

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari kiamat), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim’.” (Al-Anbiya`: 96-97)

Juga dalam surat Al-Kahfi ayat 92-99 dinyatakan pula perihal Ya`juj dan Ma`juj:

“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya, suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain1, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kalian dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.’ Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”

Kemunculan Ya`juj dan Ma`juj merupakan satu dari tanda-tanda kiamat besar. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim rahimahullahu dari Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul di hadapan kami di mana saat itu kami tengah berbincang-bincang. Maka beliau bertanya: “Apa yang kalian perbincangkan?” Mereka (para shahabat) menjawab: “Kami sedang berbincang tentang hari kiamat.”

Lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ، فَذَكَرَ الدُّخَانَ، وَالدَّجَّالَ، وَالدَّابَّةَ، وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ، وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ: خَسْفٌ بِالْـمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْـمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ
“Sesungguhnya tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sebelumnya sepuluh tanda. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan: Muncul Dajjal, binatang, matahari terbit dari barat, Isa bin Maryam turun (ke bumi), Ya`juj dan Ma`juj, tiga khusuf2, yaitu di timur, barat, dan jazirah Arab. Lantas akhir semua itu muncul api yang keluar dari Yaman yang menghalau manusia ke tempat berkumpul mereka.” (Shahih Muslim, Kitabu Al-Fitan wa Asyrathu As-Sa’ah)

Bahkan dalam hadits yang berasal dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu (dalam Shahih Muslim) disebutkan kemunculan Ya`juj dan Ma`juj ini dalam satu rangkaian dengan kemunculan Dajjal, Isa bin Maryam, lantas muncul Ya`juj dan Ma`juj. Semua peristiwa tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang akan mendahului terjadinya hari kiamat.

Nampaklah bahwa peristiwa demi peristiwa jelang hari kiamat merupakan peristiwa yang tersusun bagai marjan dalam satu untaian tali. Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْآيَاتُ خَرَزَاتٌ مَنْظُومَاتٌ فِي سِلْكٍ فَإِنْ يُقْطَعِ السِّلْكُ يَتْبَعْ بَعْضُهَا بَعْضًا
“Tanda-tanda hari kiamat (bagaikan) marjan yang disusun dalam untaian tali. Bila tali itu putus, maka terikutlah sebagian pada sebagian (lainnya).” (Musnad Ahmad 12: 6-7, hadits no. 7040. Ahmad Syakir rahimahullahu berkata, “Sanadnya shahih.” Al-Haitsami rahimahullahu berkata, “Hadits ini diriwayatkan Ahmad dan di dalamnya terdapat Ali bin Zaid yang bagus haditsnya.” Majma’uz Zawaid, 7/321. Lihat Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil, hal. 246)

Ya`juj dan Ma`juj merupakan anak keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam (manusia). Dalil yang menunjukkan mereka dari anak cucu Adam adalah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ ﭽ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭼ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلاً وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai Adam.” Adam menjawab: “Aku sambut panggilan-Mu dan dengan bahagia aku penuhi perintah-Mu, segala kebaikan berada di tangan-Mu. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Keluarkanlah utusan (penghuni) neraka.” Adam bertanya, “Apa utusan (penghuni) neraka itu?” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dari setiap 1.000 orang ada 999 orang.” Maka, ketika itu anak-anak kecil rambutnya beruban, yang hamil melahirkan kandungannya, dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi karena adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang teramat keras. Para shahabat bertanya, “Siapa satu yang selamat dari kita itu, wahai Rasulullah?” Beliau jawab, “Bergembiralah, karena kamu hanya seorang sedang dari kalangan Ya`juj dan Ma`juj seribu orang.” (Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Anbiya` Bab Qishshah Ya`juj wa Ma`juj)

Berdasar hadits ini pula, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan manusia. Kata beliau, “Hadits ini jelas sekali menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Adam.” Demikian pula Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu dalam Tafsiru Surati Al-Kahfi menyebutkan bahwa dengan hadits ini kita mengetahui kesalahan mereka yang berpendapat Ya`juj dan Ma`juj bukan berujud seperti manusia. Sebagian mereka sangat pendek dan sebagian lagi sangat tinggi tubuhnya. Sebagian telinganya terpentang dan yang lain berlipat. Semuanya merupakan dongeng Israiliyat. Tidak boleh kita membenarkan (begitu saja), bahkan harus dikatakan bahwa sesungguhnya mereka termasuk bani Adam (manusia), hanya saja mereka kemungkinan berbeda seperti perbedaan (di antara) manusia karena keadaan lingkungannya.” Demikian kata Asy-Syaikh Al-Utsaimin rahimahullahu.

Karakteristik Ya`juj dan Ma`juj di muka bumi ini adalah melakukan kerusakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Mereka berkata, ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi….” (Al-Kahfi: 94)

Kata Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu, yang dimaksud Al-Ifsad (membuat kerusakan) di muka bumi mencakup semua perbuatan yang tidak baik dan tidak memperbaiki. Merusak dengan membunuh, merampok atau merampas, penyimpangan, kesyirikan, dan dalam segala hal.

Ibnu Katsir rahimahullahu saat memberi penjelasan pada ayat:

“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (Al-Anbiya’: 96)

disebutkan bahwa (mereka) orang-orang yang cepat dalam berjalan guna membuat kerusakan.
Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya meriwayatkan dengan memberi tambahan (pada hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu) setelah lafal “di danau ini pernah ada air” dengan sabda beliau yang artinya: “Kemudian mereka berjalan hingga Gunung Khumar, yaitu gunung di Baitul Maqdis, maka mereka (Ya`juj dan Ma`juj) berkata, ‘Sungguh kita telah membunuh penduduk bumi. Maka, marilah kita bunuh penduduk langit.’ Lalu mereka melepaskan anak panah mereka ke langit, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala kembalikan anak-anak panah mereka itu kepada mereka dengan berlumuran darah. (Shahih Muslim, tambahan hadits no. 2937)

Begitulah laku lampah Ya`juj dan Ma`juj. Destruktif, membuat onar, berbuat kerusakan di muka bumi. Timbul pertanyaan, kapan Ya`juj dan Ma`juj muncul? Sudahkah Ya`juj dan Ma`juj muncul di era lalu atau bahkan di zaman sekarang ini?

Ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa Ya`juj dan Ma`juj telah ada dewasa ini. Seperti dinukil Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam kitabnya Ya`juj wa Ma`juj wa Fitnatu Ad-Dajjal (hal. 21), bahwa Al-Amir Syakib Arsalan dan selainnya berpandangan sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj adalah negara Soviet atau sebagian dari mereka. Tidak diragukan sesungguhnya mereka adalah bagian dari Ya`juj dan Ma`juj. Demikian diungkapkan Al-Amir Syakib Arsalan.

Lain halnya dengan Sayyid Quthub. Dia berpendapat, secara tarjih, bukan yakin, bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melubangi dinding telah terjadi serta Ya`juj dan Ma`juj telah keluar. Mereka adalah bangsa Tartar yang muncul pada abad ke-7 Hijriyah. Mereka telah menghancurkan kerajaan-kerajaan Islam dan menebar kerusakan di muka bumi. (Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 378)

Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Isa ‘alaihissalam akan keluarnya Ya`juj dan Ma`juj yang tidak ada seorang pun mampu memerangi mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Isa ‘alaihissalam menjauhkan kaum mukminin dari jalan yang ditempuh Ya`juj dan Ma`juj seraya berfirman: “Kumpulkan hamba-hamba-Ku ke gunung Ath-Thur.” (lihat Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 369)

Berdasarkan hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim, maka akan nampak bahwa kemunculan Ya`juj dan Ma`juj bersamaan masa dengan kehadiran Isa ‘alaihissalam. Maka apabila Ya`juj dan Ma`juj dinyatakan telah muncul, tentu akan timbul pertanyaan, bagaimana dengan Isa ‘alaihissalam?

Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi rahimahullahu menyatakan setelah beliau rahimahullahu memaparkan hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu yang panjang, “Berdasar hadits shahih ini, sungguh aku telah melihat penjelasan Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam: ‘Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewahyukan kepada Isa bin Maryam perihal keluarnya Ya`juj dan Ma`juj setelah terbunuhnya Dajjal.’ Barangsiapa yang menyatakan bahwa mereka (Ya`juj dan Ma`juj) adalah Rusia, dan dinding itu telah roboh sejak dulu, maka pendapatnya tersebut menyelisihi apa yang telah dikabarkan Ash-Shadiqu Al-Mashduq (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka batil. Karena sesungguhnya, yang menentang kabar Ash-Shadiq adalah pendusta yang membahayakan, sebagaimana dimaklumi. Tidak ada sesuatu yang kuat dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa memalingkan hadits (An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, ed.) ini yang anda telah melihat keshahihan sanadnya serta memberi kejelasan dalil-dalilnya tentang maksud yang dituju.

Pada hakekatnya, yang menjadi sandaran bagi orang-orang yang menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah Rusia, dan sandaran orang-orang mulhid (atheis) bahwa Ya`juj dan Ma`juj itu tidak ada wujudnya, adalah alasan-alasan logika, yang telah menjadi keyakinan pemiliknya.” (Adhwa`u Al-Bayan fi Idhah Al-Qur`an bi Al-Qur`an, hal. 141-142)

Menurut mereka, kalau Ya`juj dan Ma`juj itu sudah ada di balik benteng tersebut, tentu sudah ditemukan lokasinya. Apalagi dengan adanya kemajuan teknologi yang pesat dan alat-alat yang canggih untuk mendeteksi keberadaan mereka. Tapi, karena tidak ada orang yang menemukan mereka atau lokasi mereka, berarti Ya`juj dan Ma`juj belum pernah ada.

Logika seperti ini dapat dibantah dengan realita bahwa banyak hal yang masih belum mampu diungkap hakekatnya, secanggih apapun teknologi yang dikuasai manusia. Ruh misalnya. Ruh, yang demikian dirasakan keberadaannya, selalu menyertai, tetapi belum pernah terungkap eksistensi dan substansinya.

Maka, yang menjadi salah satu tanda-tanda datangnya hari kiamat besar, yaitu keluarnya Ya`juj dan Ma`juj pada akhir zaman, belum terjadi. Sebab, hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa Ya`juj dan Ma`juj keluar setelah Isa ‘alaihissalam turun ke bumi. Dialah yang berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membinasakan Ya`juj dan Ma`juj. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun lantas membinasakan dan membuang bangkai mereka ke laut, serta mengamankan negara-negara dan hamba-hamba-Nya dari kejahatan Ya`juj dan Ma`juj.

Wallahu ta’ala a’lam.

Sumber : Asysyariah.com

4 Shafar 1429 H