Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj Pertanda Dekatnya Hari Kiamat

Oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Syariah, Hadits, 12 – Maret – 2008, 05:52:41

Dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dari tidurnya seraya berkata: “La ilaha illallah, celakalah orang-orang Arab, karena keburukan yang telah dekat. Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj seperti ini.” –dan Sufyan (seorang perawi) melingkarkan tangannya dalam bentuk angka sepuluh– Kemudian saya (Zainab) berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, ketika al-khabats semakin banyak jumlahnya.” عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَيْقَظَ مِنْ نَوْمِهِ وَهُوَ يَقُولُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ -وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشَرَةً-. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. 26145, 26148; Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3346, Kitabul Manaqib no. 3598, Kitab Ath-Thalaq secara mu’allaq, Kitabul Fitan no. 7059, 7135; Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul Fitan wa ‘Asyrathus Sa’ah no. 7164-7168; Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu dalam Kitabul Fitan ‘an Rasulillah no. 2187; Al-Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabul Fitan no. 3953.

Jalur Periwayatan Hadits
Hadits ini juga diriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Kitabul Fitan no. 7059.
Adapun riwayat dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha, terjadi perselisihan dalam jalur periwayatannya. Para rawi murid-murid Sufyan bin ‘Uyainah yang meriwayatkan dari beliau seperti ‘Amr bin Muhammad An-Naqid (dalam Shahih Muslim), Malik bin Isma’il (dalam Shahih Al-Bukhari), Sa’id bin Manshur (dalam Sunan-nya), Qutaibah dan Harun bin Abdillah (dalam riwayat Al-Isma’ili), Al-Qa’nabi (dalam riwayat Abu Nu’aim dan Musnad Musaddad), meriwayatkan hadits ini tanpa menyebutkan tambahan rawi Habibah bintu Ummu Habibah1.
Dalam Shahih Al-Bukhari terdapat riwayat dari ‘Uqail bin Khalid Al-Aili, Syu’aib bin Abi Hamzah Al-Umawi, Muhammad bin Abi ‘Atiq, semuanya meriwayatkan dari Az-Zuhri dan tidak ada dalam sanadnya penyebutan Habibah bintu Ummu Habibah.
Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari jalan Yunus bin Yazid Al-Aili, ‘Uqail bin Khalid, dan Shalih bin Kaisan, semuanya dari Az-Zuhri, tanpa menyebutkan Habibah.
Sementara pada riwayat yang lain, Al-Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Abu Bakr bin Abi Syaibah, Sa’id bin ‘Amr Al-Asy’atsi, Zuhair bin Harb, Muhammad bin Yahya bin Abi ‘Umar. Keempat rawi ini semuanya meriwayatkan dari Sufyan, dari Az-Zuhri. Al-Imam Muslim berkata: “Dalam meriwayatkannya, mereka menambahkan seorang rawi yang bernama Habibah bintu Ummu Habibah, dari Ummu Habibah.”
Al-Imam At-Tirmidzi meriwayatkan dari jalan Sa’id bin Abdirrahman, Muhammad bin Ahmad Al-Qaisi, Abdullah bin Az-Zubair Al-Qurasyi, ‘Ali bin Abdillah Al-Bashri, semuanya dari Sufyan bin ‘Uyainah. Al-Imam At-Tirmidzi berkata: “Sufyan telah membaguskan (periwayatan) hadits ini.”
Abu Nu’aim juga meriwayatkan dalam kitabnya Al-Mustakhraj, dari jalan Al-Humaidi. Beliau berkata dalam riwayatnya: “Dari Habibah bintu Ummu Habibah, dari ibunya (Ummu Habibah)” Dan disebutkan di akhir perkataan beliau: “Sufyan telah berkata: Aku menghafal (mendapatkan) hadits ini dari Az-Zuhri, ada empat orang wanita, semuanya telah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua dari istrinya, yaitu Ummu Habibah dan Zainab bintu Jahsyin, dan dua rabibah (anak tiri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yaitu Zainab bintu Abi Salamah dan Habibah bintu Ummu Habibah.”
Al-Imam An-Nasa`i meriwayatkan dari jalan Ubaidullah bin Sa’id, sedangkan Al-Imam Ibnu Majah dari jalan Abu Bakr bin Abi Syaibah, Al-Isma’ili dari riwayat Al-Aswad bin ‘Amir; mereka semua meriwayatkan dari Ibnu ‘Uyainah dan menambahkan Habibah dalam meriwayatkannya.

Al-Isma’ili meriwayatkan dari jalan Harun bin Abdillah, ia berkata: “Al-Aswad bin ‘Amir telah berkata kepadaku: Bagaimana hadits ini dihafal dari Ibnu ‘Uyainah? Kemudian beliau Ibnu ‘Uyainah menyebutkan kepada Al-Aswad bin ‘Amir riwayat yang tidak terdapat padanya Habibah dan beliau berkata: “Akan tetapi Az-Zuhri telah memberitakan kepada kami dari Urwah, dari empat wanita, semuanya telah berjumpa dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagian mereka dari yang sebagian lain.”
Al-Imam Ad-Daraquthni berkata: “Saya mengira bahwa Sufyan terkadang meriwayatkan hadits ini dengan menyebut Habibah dan terkadang tidak menyebutnya.”
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Pada sanad hadits di atas terkumpul empat shahabiyah, dua istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Ummu Habibah dan Zainab bintu Jahsyin) dan dua anak tiri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Zainab bintu Ummu Salamah dan Habibah bintu Ummu Habibah). Sebagian mereka meriwayatkan dari sebagian yang lain. Dan saya tidak mengetahui ada sebuah hadits yang terkumpul padanya empat shahabiyah yang sebagian meriwayatkan dari sebagian yang lain kecuali hadits ini.” (Lihat Fathul Bari, 13/15-16 cet. Darul Hadits, Al-Minhaj, 18/211-213)

Makna Hadits

“Bangun dari tidurnya.” Pada riwayat yang lain terdapat tambahan: مُحْمَرًّا وَجْهُهُ (memerah wajahnya). Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada suatu hari dalam keadaan terkejut dan memerah wajahnya. Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Yang menyebabkan memerahnya wajah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah karena keterkejutannya.”

“Celakalah orang-orang Arab dari keburukan yang telah dekat.” Dalam hadits ini disebutkan orang Arab secara khusus karena waktu itu merekalah yang paling banyak memeluk agama Islam. Adapun yang dimaksud dengan keburukan yaitu apa yang terjadi sepeninggal beliau berupa pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu yang disusul fitnah-fitnah berikutnya. Sehingga keadaan orang-orang Arab di antara umat manusia seperti santapan yang diperebutkan. Al-Qurthubi berkata: “Kemungkinan, maksud keburukan di sini adalah apa yang diisyaratkan dalam hadits Ummu Salamah: ‘Apa gerangan fitnah-fitnah yang turun pada malam hari ini? Dan apa gerangan perbendaharaan Allah yang turun?’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengisyaratkan penaklukan negeri-negeri sehingga berlimpah ruahlah harta di tangan mereka, sehingga terjadilah saling berlomba yang menghantarkan kepada fitnah.”

“Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj.” Yang dimaksud dengan الرَّدْمُ artinya السَّدُ yaitu dinding yang dibangun oleh Dzulqarnain. Al-Kasa`i berkata: “Huruf sin di sini boleh di-dhammah (السُّدُ) atau di-fathah (السَّدُ) dan maknanya sama.” Abu ‘Amr ibnul ‘Ala` berkata: “Apabila dinding itu ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dengan men-dhammah, dan apabila buatan bani Adam maka dengan mem-fathah.” مِنْ نَوْمِهِ اسْتَيْقَظَ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ

Ya`juj wa Ma`juj adalah dari bani Adam. Mereka adalah dua kabilah (bangsa) dari anak keturunan Yafits bin Nuh. Di antara yang berpendapat demikian adalah Wahb dan selainnya.
Al-Imam An-Nawawi dan yang lainnya mengisyaratkan sebuah cerita bahwa ada yang berkata (yakni Ka’b Al-Ahbar): “Mereka dari anak Adam dari selain Hawa (red). Nabi Adam ‘alaihissalam tidur lalu mimpi basah dan tercampurlah air maninya dengan tanah dan lahirlah darinya Ya`juj dan Ma`juj.” Al-Hafizh berkata: “Ini adalah pendapat yang sangat mungkar. Tidak ada asal-usulnya kecuali dari ahli kitab.”
Disebutkan juga dalam fatwa Asy-Syaikh Muhyiddin bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Adam namun bukan dari Hawa, dan itulah pendapat jumhur ulama, sehingga mereka itu saudara kita sebapak. Al-Hafizh menyatakan: “Kami tidak mengetahui pendapat ini dari seorang ulama salaf kecuali Ka’b Al-Ahbar. Dan hal ini terbantah dengan hadits marfu’ yang menyebutkan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Nuh, sedangkan Nuh –tidak dipungkiri lagi– adalah keturunan Adam dan Hawa.
Ada juga yang berpendapat bahwa mereka dari bangsa At-Turk2. Di antara yang berpendapat demikian adalah Adh-Dhahhak. Ada pula yang menyatakan bahwa Ya`juj dari bangsa At-Turk sedangkan Ma`juj dari Ad-Dailam.
Al-Hafizh rahimahullahu berkata: “Telah disebutkan satu riwayat bahwa seorang nabi tidaklah mimpi basah. Maka bagaimana dikatakan Ya`juj dan Ma`juj berasal dari perpaduan air mani Nabi Adam ‘alaihissalam dengan tanah? Jawabannya, riwayat yang menyatakan bahwa seorang nabi tidak mimpi basah ialah bahwa seorang nabi tidak melihat dalam tidurnya bersetubuh. Sehingga kemungkinan yang terjadi adalah terpancarnya air mani saja. Dan yang seperti ini dimungkinkan sebagaimana kencing. Pendapat pertama yang kuat untuk dijadikan pegangan. Kalau tidak, di manakah keberadaan mereka saat terjadinya banjir besar (yang menimpa kaum Nuh ‘alaihissalam)?”

Kebanyakan pendapat menyatakan bahwa nama Ya`juj dan Ma`juj merupakan nama ‘ajam (bukan dari bahasa Arab), walaupun ada yang menyatakannya berasal dari bahasa Arab. Dari pendapat yang menyatakan kedua lafadz ini dari bahasa Arab, terjadi perselisihan terhadap asal kata Ya`juj dan Ma`juj. Ada yang mengatakan dari kata أَجِيْجُ النَّارِ yaitu nyala/jilatan api (bergejolak). Ada yang mengatakan dari kata الْأَجَّةُ yaitu bercampur atau sangat panas. Ada pula yang mengatakan dari kata الْأَجُّ yaitu yang cepat larinya. Yang lain mengatakan dari الْأُجَاجُ yaitu air yang sangat asin.
Wazan (timbangan kata dalam bahasa Arab) Ya`juj dan Ma`juj adalah يَفْعُولُ وَمَفْعُولُ dan inilah yang nampak dari qiraah ‘Ashim dan yang lainnya. Ada yang mengatakan فَاعُولُ dari يَجَّ dan مَجَّ sehingga dibaca يَاجُوجُ مَاجُوجُ. Ada yang mengatakan kata مَاجُوجُ berasal dari kata مَاجَ yaitu bergerak. Dan semua asal kata yang disebutkan di atas sesuai dengan keadaan mereka.
Pendapat yang menyatakan bahwa ia berasal dari kata: مَاجَ yaitu bergerak, dikuatkan oleh ayat:

“Kami biarkan mereka (Ya`juj dan Ma`juj) di hari itu bercampur-aduk antara satu dengan yang lain.” (Al-Kahfi: 99)
Hal itu terjadi ketika mereka keluar dari dalam dinding.
Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi, Ibnu Abi Hatim, Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan Ibnu Mardawaih dari hadits Hudzaifah yang menyebutkan sifat mereka bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya`juj itu umat dan Ma`juj itu umat. Setiap umat terdapat 400 ribu orang. Tidaklah meninggal salah seorang dari mereka hingga melihat seribu laki-laki dari keturunannya, semuanya telah bersenjata.”
Al-Hafizh menyatakan hadits ini maudhu’ (palsu). Ibnu Abi Hatim mengatakan: “Mungkar, dalam sanadnya terdapat seorang rawi yang bernama Yahya bin Sa’id Al-‘Aththar, dia adalah seorang yang sangat lemah. Namun pada sebagian jalan terdapat penguat yang shahih, seperti pada riwayat Ibnu Hibban dari shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya keturunan yang ditinggalkan salah seorang dari Ya`juj dan Ma`juj paling sedikit seribu orang.”
Al-Hakim meriwayatkan dari Abul Jauza` Aus bin Abdillah Ar-Raba’i Al-Bashri dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Ya`juj dan Ma`juj sejengkal-sejengkal, dua jengkal dua jengkal, dan yang paling tinggi tiga jengkal, dan mereka adalah anak keturunan Adam. (Fathul Bari, 13/130-131)

“Sufyan melingkarkan jari membentuk angka sepuluh.” Pada sebagian riwayat dari Yunus dari Az-Zuhri tanpa menyebutkan melingkarkan kedua jarinya, yaitu ibu jari dengan yang setelahnya (jari telunjuk). Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu terdapat tambahan: “Dan Wuhaib melingkarkan tangannya membentuk angka sembilan puluh.”
Al-Imam An-Nawawi berkata: “Adapun riwayat Sufyan dan Yunus, pada keduanya terjadi kesesuaian dalam hal makna. Adapun riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyelisihi, karena bentuk lingkaran sembilan puluh lebih sempit daripada sepuluh.” Al-Qadhi berkata: “Kemungkinan, hadits Abu Hurairah lebih dahulu. Atau yang dimaksud dengan dekat di sini hanyalah sebagai permisalan dan bukan hakikat pembatasan.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Makna membentuk lingkaran sepuluh yaitu dengan meletakkan ujung telunjuk jari yang kanan pada ruas bagian atas ibu jari bagian dalam. Adapun membentuk lingkaran sembilan puluh yaitu dengan meletakkan ujung telunjuk jari kanan pada pangkalnya. Ibnu At-Tin menukilkan dari Ad-Dawudi bahwa caranya adalah dengan meletakkan telunjuk jari pada pertengahan ibu jari.”

“Apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih?” Pada sebagian riwayat terdapat lafadz: Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha berkata: “Wahai Rasulullah, apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengadzab kami.”
Lafadz “bersama kita ada orang-orang shalih” seolah-olah ini diambil dari ayat:

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka selama engkau (Muhammad) ada di antara mereka.” (Al-Anfal: 33)

“Ketika al-khabats semakin banyak jumlahnya.” Jumhur ulama menafsirkannya dengan makna kefasikan dan kejahatan. Ada yang berpendapat maknanya adalah zina secara khusus. Pendapat lain mengatakan: anak-anak zina. Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Yang nampak dalam hal ini adalah kemaksiatan secara mutlak.”
Ibnul ‘Arabi berkata: “Lafadz ini menjelaskan bahwa orang yang baik bisa binasa dengan binasanya orang yang buruk, apabila orang yang jelek itu tidak diubah. Atau apabila diubah namun tidak bermanfaat dan orang yang buruk itu terus melakukan amalan jeleknya. Hingga hal itu tersebar dan semakin banyak, sehingga kerusakan merata. Di saat itulah kebinasaan menimpa kepada yang sedikit maupun yang banyak, kemudian masing-masing akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya. Seolah-olah dipahami dari terbukanya dinding seukuran yang disebutkan, apabila terus terjadi maka lubang itu menjadi lebar di mana mereka (Ya`juj dan Ma`juj) dapat keluar. Lafadz ini juga menunjukkan bahwa dia (Zainab) mengetahui bahwa keluarnya Ya`juj dan Ma`juj pada manusia akan menjadi sebab kebinasaan hidup manusia secara keseluruhan.” (Fathul Bari, 13/134) وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ وَعَقَدَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ عَشَرَةً أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ

Keluarnya Ya`juj dan Ma`juj adalah perkara yang ditetapkan berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hingga apabila dibukakan tembok (dinding) Ya`juj dan Ma`juj serta mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit).” (Al-Anbiya: 96-97)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya kiamat tidak akan tiba sampai kalian melihat sepuluh tanda. Kemudian beliau menyebutkan asap, dajjal, binatang, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam, keluarnya Ya`juj dan Ma`juj, tiga khusuf: di timur, barat, dan di jazirah arab, yang terakhir (kesepuluh) keluarnya api dari Yaman menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. (2901)(39) dari hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)
Keluarnya mereka –yang merupakan tanda hari kiamat– belumlah terjadi sekarang, namun tanda-tanda keluarnya telah ada sejak jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Telah mulai terbuka hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj sebesar (lubang) ini.” Rasulullah membuat lingkaran dengan dua jarinya, ibu jari dan jari telunjuk. (HR. Al-Bukhari dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha) [Lum’atul ‘Itiqad, hal. 108-109]
Wallahu a‘lam bish-shawab. حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ. وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ -فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعَيْهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا

1 Habibah bintu Ummu Habibah ini adalah Habibah bintu Ubaidullah bin Jahsyin. Beliau termasuk yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia). Ayahnya beragama Nasrani dan meninggal di Habasyah. Sedangkan ibunya (Ummu Habibah) tetap memeluk Islam dan kemudian dinikahi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga beliau menjadi anak tiri (rabibah) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus sebagai keponakan Zainab. Karena Zainab bintu Jahsyin adalah saudara kandung ayah Habibah, maka (Zainab bintu Jahsyin) adalah bibi Habibah dari pihak ayah (‘ammah).
2 Bangsa yang berbahasa Turk di dunia ini adalah hampir seluruh bangsa yang mendiami wilayah Asia Tengah (Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, dll), Turki, Azerbaijan, sebagian Rusia, sebagian Cina, dan sebagian Moldova.

Sumber : http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=595

Iklan

Ciri-ciri Imam Mahdi Al Muntazhar

SEGALA SESUATU YANG DIKEHENDAKI
TERJADI PASTI TERJADI,
DAN YANG TIDAK, PASTI TIDAK TERJADI

Oleh Muhammad Isa Dawud

Hingga kini Imam Mahdi baru sebatas pembicaraan dan berita, tetapi esok dunia akan menyaksikan peristiwa yang bukan sekedar peristiwa dan berita yang bukan sekedar berita…

Imam Mahdi dikabarkan dalam wujud seperti Dzul Qarnain, seorang penakluk perkasa. Ia mempunyai sarana-sarana kekuatan dan pembelaan diri, yang dipusatkan pada petunjuk dan keimanan yang sejati kepada Allah Swt. Dalam sebuah hadis tentang Imam Mahdi, disebutkan bahwa, “Setiap ia ingin berbicara, lidahnya terasa berat. Kemudian ia memukul pahanya, dan meluncurlah ucapan-ucapannya…” Ini merupakan nas atau teks (nash) paling sahih dibanding nas lainnya, yakni bahwa Imam Mahdi sulit berbicara, lalu memukul pahanya, dan meluncurlah berbagai hikmah darinya.” 1)

Diriwayatkan dari Abu ath-Thufail bahwa Rasulullah Saw. menyebutkan, “Ia sukar berbicara, dan memukul paha kirinya dengan tangan kanannya bila ia mengalami kesulitan dalam berkata-kata…” 2)

Rahasia yang terdapat dalam pukulan di paha itu adalah kondisi (hal) yang diberikan Allah Swt, yang dengan itu Dia memberi ilham kepada Imam Mahdi secara berulang-ulang dan susul-menyusul. Imam Mahdi memahami hal itu sebagai suatu kebaikan bagi dirinya saat ia ingin lancar berbicara dan tidak takut salah, dan itu merupakan kemuliaan baginya..

Dalam sebuah hadis marfu’ 3) disebutkan ( bahwa Rasulullah Saw. bersabda ): “Sesungguhnya al-Mahdi tidak pernah berbicara kecuali bila diajak berbicara oleh seseorang,” kecuali bila masalahnya memang mengharuskannya memulai pembicaraan. Kondisi dirinya selamanya memperlihatkan raut sedih, karena sangat takutnya kepada Allah Azza wa Jalla. Musyawarahnya tidak pernah terputus dari orang banyak, dan sebaik-baik manusia adalah orang yang diajak bermusyawarah oleh, dan mau mengajak bermusyawarah kepada, Imam Mahdi.” Salah satu cirinya adalah bahwa ia adalah pemuda berusia 33 tahun atau 34 tahun, atau antara 33 dan 34 tahun.

Abu Na’im meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Umamah r.a. (bahwa Rasulullah Saw. bersabda): “Imam Mahdi itu dari anak cucuku, (dan) berusia empat puluh tahun. Wajahnya bagai Bintang Timur. Di pipi kanannya terdapat tahi lalat, dan mengenakan baju dua lapis yang sangat putih, seakan-akan ia dari kalangan Bani Israil. Ia mengeluarkan harta simpanan dan menggali harta kekayaan kaum orang-orang Musyrik.” 4)

Kita tidak mendustakan riwayat-riwayat di atas, tetapi tidak pula menentukan mana di antaranya yang lebih kuat. Sebab, bisa jadi semuanya sahih, dalam arti bahwa Imam Mahdi berusia 33 tahun berdasarkan hitungan tahun Masehi dan 34 tahun berdasarkan hitungan tahun Hijriah, dan hal ini dapat diartikan antara 33 tahun dan 34 tahun.

Sebagai bantahan praktis-teologis atas orang-orang yahudi, di sini dikatakan bahwa Imam Mahdi adalah pemuda berusia 40 tahun,” sebab orang-orang yahudi mengatakan bahwa Imam Mahdi adalah salah seorang di antara tiran-tiran mereka, tetapi mereka tidak mempunyai biografinya…

Diriwayatkan dari Hudzaifah ibn al-Yaman r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda,” Sekiranya Qiamat tinggal sehari lagi, Allah Swt pasti akan mengutus seseorang yang namanya sama dengan namaku. Akhlaqnya adalah akhlaqku, dan ia diberi gelaran Abu Abdullah.” 5) Para penulis hadis ini memberi syakal lafal khuluquhu dengan dhammah pada kha’ dan lam-nya.

Di dalam riwayat yang diterima dari Ibn Mas’ud r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Saw. Berkata, “akan muncul seorang laki-laki dari Ahlul Baitku, namanya sama dengan namaku, dan akhlaqnya adalah akhlaqku. Ia memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana dunia dipenuhi kezaliman pada masa sebelumnya…” 6)

Imam Mahdi disebutkan juga dalam sebuah naskah langka yang tersimpan di perpustakaan ibukota Syiria, yakni Damaskus, yakni di Perpustakaan Universitas al-Umawi, dengan nomor 29/Turats Basyar al-Harits, yang menyebutkan sifat-sifat Imam Mahdi. Disebutkan, antara lain, bahwa ia adalah orang yang waspada dan jujur. Artinya, ia tidak pernah tertipu dan tidak mau menipu, seakan-akan mirip sifat yang dimiliki ‘Umar ibn al-Khaththab saat menuturkan dirinya dengan mengatakan, “Aku bukan seorang penipu, dan seorang penipu juga tidak dapat memperdayaku.” Dua hal ini adalah dua sifat yang lazim dimiliki oleh pemimpin mana pun. Ia berkuasa, memerintah, dan memimpin, tetapi pemerintahannya berada pada tingkat yang bersih, dan tidak Machiavellian.

Kecakapan dan kepemimpinan seperti itu belum pernah dikenal umat manusia selain dikalangan umat Islam. Semua pemimpin adalah penipu, perusak, korup, dan menyeleweng. Imam Mahdi adalah teladan Islami yang diberikan kepada umat manusia dalam bentuknya yang baru, sesudah mereka kehilangan teladan seperti itu berabad-abad lamanya. Ia adalah kalimat pamungkas untuk umat manusia, agar mereka kembali kepada Allah Swt sebelum qiamat terlanjur datang dengan segala kedahsyatannya dan kengeriannya,yang waktunya tinggal sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi…
—————————————————————————————————————-
1)Teks yang paling sahih ini terdapat di dalam manuskrip tulisan-tangan yang tersimpan di Dar al-Kutub al- Mishriyyah dengan judul Kullu Ma Utsira fi Akhbar al-Mahdi al-Muntazhar yang disusun oleh ‘Allamah Ibn Hajar al-Asqallani, dengan nomor 944/Turats.

2)Hadis ini diriwayatkan oleh as-Suyuti dalam al-‘Urf al-Wurda yang sanadnya ia hubungkan dengan Na’im bin Hammad, dan termasuk hadis yang disebutkan oleh Ibn Hajar al-Makki al-Haitami dalam ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazhar: Yudhribu Fakhidzah al-Yusra bi Yadih al- Yumna idza Abtha’a ‘alaih al-Kalam.

3)Hadis marfu’ adalah hadis yang dinisbatkan kepada Nabi Saw., khusus mengenai perbuatan, ucapan, ketetapan atau sifat beliau.

4)Diriwayatkan oleh Abu Na’im dalam Shifah al-Mahdi. Lihat ‘Iqd ad-Durar hlm. 36.

5)Hadis ini di-takhrij oleh ath-Thabrani dengan sanad sahih karena adanya beberapa syahid untuk hadis ini.

6)Ibid.

Sumber          : Buku Menyongsong Imam Mahdi Sang Penakluk Dajjal
Penerbit         : PUSTAKA HIDAYAH
Penerjemah    : Dr. Afif  Muhammad, M.A.

Berbaiat dengan Imam Mahdi

Oleh Ihsan Tandjung

Sebagai bagian dari ummat Islam yang ditaqdirkan Allah ta’aala hidup di babak keempat perjalanan sejarah ummat ini, maka kita harus bersiap siaga mengantisipasi kemunculan Imam Mahdi. Babak keempat merupakan babak mulkan jabriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak). Inilah babak di mana ummat Islam mengalami giliran kekalahan sedangkan kaum kuffar mendapat giliran memimpin dunia. Allah ta’aala izinkan mereka untuk membangun suatu peradaban penuh fitnah. Peradaban kafir ini akan mencapai puncaknya tatkala fitnah paling dahsyat sepanjang zaman telah hadir, yaitu fitnah Dajjal. Bahkan Godless Civilization ini bakal menobatkan Dajjal sebagai pemimpin dunia ketika ia muncul.

Jadi, bila ummat Islam merasakan begitu banyak kezaliman yang berlangsung di dunia dewasa ini bukanlah perkara yang aneh. Sebab memang keadaan ini telah di-nubuwwah-kan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam lima belas abad yang lalu. Inilah babak di mana kezaliman merajalela. Inilah babak di mana fitnah demi fitnah bermunculan hingga datangnya puncak fitnah, yaitu Dajjal. Sebab semua fitnah yang berlaku di dunia merupakan pengantar menuju puncak fitnah, yaitu Dajjal.

عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ
ذُكِرَ الدَّجَّالُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَأَنَا لَفِتْنَةُ بَعْضِكُمْ أَخْوَفُ عِنْدِي مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَلَنْ يَنْجُوَ أَحَدٌ مِمَّا قَبْلَهَا إِلَّا نَجَا مِنْهَا وَمَا صُنِعَتْ فِتْنَةٌ مُنْذُ كَانَتْ الدُّنْيَا صَغِيرَةٌ وَلَا كَبِيرَةٌ إِلَّا لِفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Suatu ketika ihwal Dajjal disebutkan di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian beliau bersabda:”Sungguh fitnah yang terjadi di antara kalian lebih aku takuti dari fitnah Dajjal, dan tiada seseorang yang dapat selamat dari fitnah sebelum fitnah Dajjal melainkan akan selamat pula darinya (Dajjal), dan tiada fitnah yang dibuat sejak adanya dunia ini –baik kecil ataupun besar- kecuali untuk fitnah Dajjal.” (HR Ahmad 22215)

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَهْبَطَ اللَّهُ إِلَى الأَرْضِ
مُنْذُ خَلَقَ آدَمَ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ فِتْنَةً أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ

“Allah tidak menurunkan ke muka bumi -sejak penciptaan Adam as hingga hari Kiamat- fitnah yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal.” (HR Thabrani 1672)

Mengingat bahwa babak mulkan jabriyyan merupakan babak paling kelam dalam sejarah ummat Islam, maka niscaya keluarnya Dajjal akan terjadi pada babak ini. Para pendukung peradaban kafir sampai berani mensosialisasikan isyarat kemunculan calon pemimpin mereka di dalam lembar uang kertas mereka..! Coba perhatikan simbol The Great Seal yang ada dalam lembaran uang kertas satu dollar Amerika Serikat.

Di dalamnya terdapat gambar piramida yang tidak sempurna di mana pucuknya raib laksana nasi tumpeng yang terpotong bagian atasnya. Piramida tersebut merepresentasikan struktur dan sistem dunia dewasa ini. Dunia diarahkan menjadi bak satu struktur dengan sistem piramida. Namun sistem itu belum memiliki pimpinan. Di bawah piramida tertulis Novus Ordo Seclorum, bahasa Latin yang berarti ”New World Order”. Mereka bermaksud membangun sebuah kehidupan berupa satu “Tatanan Dunia Baru”. Inilah yang dikatakan oleh Ahmad Thompson sebagai Sistem Dajjal. Suatu peradaban yang nilai-nilainya secara diameteral bertentangan dengan nilai-nilai Kenabian. Suatu dunia di mana segenap lini kehidupan berjalan dan tunduk kepada nilai-nilai Dajjal.

Di atas piramida tertulis Annuit Coeptis yang berarti “Usaha/persembahan kita direstui si Mata Tunggal”. Mereka sangat yakin bahwa semua upaya mewujudkan Tatanan Dunia Baru mendatangkan keridhaan si Mata Tunggal. Pimpinan piramida digambarkan berupa sebuah ”mata tunggal” dalam segitiga yang diletakkan berjarak sedikit di atas pucuk piramida tersebut, seolah menyatakan bahwa pimpinan belum ada tapi sudah jelas bakal segera datang. Bagi ummat Islam isyarat mata tunggal tidak lain berarti Dajjal.

وَأَنَّ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ

كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ

“Dan sesungguhnya Dajjal itu bermata satu; sebelah matanya tidak nampak. Di antara kedua matanya tertulis “kafir”yang terbaca oleh setiap mu’min yang mengerti baca-tulis ataupun tidak.” (HR Ahmad 26298)

Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa syarat untuk sanggup mendeteksi kebatilan Dajjal dan sistemnya bukanlah intelektual atau tidaknya seseorang, melainkan murni atau tidaknya iman di dada. Sistem penuh kezaliman ini akan diizinkan Allah ta’aala berlaku beberapa saat untuk selanjutnya dihancurkan dan digantikan dengan sistem yang Allah ta’aala ridhai di babak kelima, yaitu babak khilafatun ’ala minhaj An-Nubuwwah.

Allah ta’aala tidak akan membiarkan dunia kiamat sebelum kebatilan mengalami kekalahan dan kehancuran serta kebenaran Al-Islam tegak dan dirasakan keadilannya di seantero dunia. Inilah peranan yang akan dimainkan oleh Imam Mahdi beserta kaum muslimin yang berbaiat menjadi pasukannya.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ فِيهِ
رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah ta’aala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435)

Bila Al-Mahdi telah muncul setiap muslim diwajibkan untuk segera ber-baiat kepadanya. Bagaimanapun situasinya, setiap muslim mesti berusaha untuk memastikan dirinya bergabung ke dalam pasukan yang dipimpin oleh Imam Mahdi. Di bawah komando beliaulah ummat Islam akan diajak bersama meninggalkan babak keempat penuh kezaliman ini menuju tegaknya babak kelima penuh keadilan kelak. InsyaAllah.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ketika kalian melihatnya maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah 4074)

Mengapa Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaihi wa sallam mengatakan “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”? Sebab pada masa itu keadaannya sangat sulit. Bila kondisi dunia masih seperti dewasa ini boleh jadi berbagai media-massa justru menjuluki Imam Mahdi sebagai pimpinan teroris sebagaimana media kuffar dewasa ini menjuluki Usamah bin Laden sebagai the number one terrorist in the world.

Siapapun yang berfikir untuk ber-baiat dengan Imam Mahdi pastilah berada dalam ancaman dituduh sebagai teroris pula. Hanya muslim-mu’min yang selalu mengharapkan ridho Allah ta’aala semata akan bersegera bergabung dengan Imam Mahdi. Sedangkan muslim yang selama ini sibuk mendahulukan ridho manusia daripada ridho Allah ta’aala dapat dipastikan tidak akan bersegera ber-baiat dengannya. Bahkan sangat mungkin mereka malah akan berfihak kepada barisan yang memerangi Al-Mahdi dan kaum muslimin yang dipimpinnya. Wa na’udzu billahi min dzaalika.- (Eramuslim)

Bersiap-Siaga Mengantisipasi Munculnya Imam Mahdi

Oleh Ihsan Tandjung

Sebagian ulama berpendapat bahwa tanda-tanda besar Kiamat ada sepuluh. Tanda besar yang paling pertama adalah keluarnya Dajjal. Namun beberapa waktu sebelum Dajjal keluar, Allah ta’aala akan munculkan pemimpin ummat Islam di akhir zaman, yakni Imam Mahdi. Ia akan mengeluarkan ummat dari kondisi dunia yang penuh kesewenang-wenangan dan kezaliman menjadi penuh keadilan dan perdamaian. Atau dengan kata lain ia bakal mengalihkan kita dari babak mulkan jabriyyan (kepemimpinan para penguasa yang memaksakan kehendak) menuju babak khilafatun ’ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan yang mengikuti pola kenabian). Ia bakal memimpin kita keluar dari kondisi dunia dewasa ini yang penuh kezaliman dan kekufuran menuju tegaknya kembali peradaban Islam penuh keadilan dan keimanan.

وأما المهدي الذي يملأ الأرض عدلا كما ملئت جورا

“Sedangkan Al-Mahdi ia akan penuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman.” (Al-Hakim 8714)

Dialah sosok Imam Mahdi. Seorang lelaki yang namanya mirip dengan nama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan nama ayahnya mirip nama ayah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Kurang lebih ia bernama Muhammad bin Abdullah rahimahullah.

لَوْ لَمْ يَبْقَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا يَوْمٌ لَطَوَّلَ اللَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ حَتَّى يَبْعَثَ
فِيهِ رجل مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمُ أَبِي
يَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ ظُلْمًا وَجَوْرًا

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah ta’aala akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.”(HR Abu Dawud 9435)

Ada dua fenomena menjelang munculnya Al-Mahdi. Pertama, bilamana sudah terjadi fenomena sosial berupa perselisihan antar-manusia dan antar-kelompok manusia. Kedua, bilamana terdapat banyak gempa.

أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ النَّاسِ وَزَلَازِلَ
فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا وَظُلْمًا

“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ta’aala ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898)

Dunia dewasa ini sudah diwarnai oleh kedua fenomena di atas secara signifikan. Perselisihan antar-manusiagempa dari waktu ke waktu. Silahkan buka situs http://www.USGS.com, yaitu situs resmi United States Geological Survey sejenis BMG-nya Amerika Serikat. Dalam situs tersebut dibeberkan updating gempa yang terjadi di negeri manapun lengkap dengan koordinat dan skala richter-nya. Dan jika kita melihat situs tersebut kita akan tercengang mendapati bahwa beberapa tahun belakangan ini terjadi peningkatan frekuensi gempa yang signifikan. sudah luar biasa. Perselisihan antar-kelompokpun sudah luar biasa. Bahkan antar sesama muslim dan antar sesama organisasi Islam. Demikian pula dengan gempa. Sudah sangat sering kita mendengar adanya kejadian

Artinya, ummat Islam harus bersiap siaga mengantisipasi kemunculan Imam Mahdi. Bila Al-Mahdi telah muncul setiap muslim diwajibkan untuk segera ber-baiat kepadanya. Bagaimanapun situasinya, setiap muslim mesti berusaha untuk memastikan dirinya bergabung ke dalam pasukan yang dipimpin oleh Imam Mahdi.

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ

“Ketika kalian melihatnya maka ber-bai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah 4074)

Mengapa Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”? Sebab pada masa itu keadaannya sangat sulit. Bila kondisi dunia masih seperti dewasa ini boleh jadi berbagai media-massa justru menjuluki Imam Mahdi sebagai pimpinan teroris. Sehingga siapapun yang berfikir untuk ber-baiat dengannya pastilah berada dalam ancaman dituduh sebagai teroris. Hanya muslim-mu’min yang selalu mengharapkan ridho Allah ta’aala semata akan bersegera bergabung dengan Imam Mahdi. Sedangkan muslim yang selama ini sibuk mendahulukan ridho manusia daripada ridho Allah ta’aala dapat dipastikan tidak akan bersegera ber-baiat dengannya. Bahkan sangat mungkin mereka malah akan berfihak kepada barisan yang memerangi Al-Mahdi dan kaum muslimin yang dipimpinnya.

Muslim seperti apakah yang layak bergabung dengan pasukan Al-Mahdi? Mereka adalah:
Pertama, orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah ta’aala.
Kedua, bersikap lemah-lembut terhadap sesama orang beriman.
Ketiga, bersikap tegas dan tidak kompromi dengan kaum kuffar.
Keempat, selalu berjihad di jalan Allah ta’aala tanpa takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Termasuk tanpa takut dituduh teroris oleh mereka yang biasa menuduh.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah ta’aala akan mendatangkan suatu kaum yang Allah ta’aala mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS Al-Maidah ayat 54)

Mereka inilah yang sering dijuluki sebagai generasi pengganti. Semoga Allah ta’aala masukkan kita ke dalam golongan ini. Suatu golongan yang sadar akan pentingnya persiapan menyambut kehadiran pemimpin ummat di akhir zaman Imam Mahdi. Mereka menanti kedatangannya bukan dalam pengertian pasif dan fatalistik. Melainkan penuh kesabaran, keteguhan pendirian dan pengorbanan.

Mereka tidak tergoda hingar-bingar zaman penuh kezaliman dan fitnah babak mulkan jabriyyankhilafatun ’ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan sesuai sistem kenabian) yang tidak mungkin diwujudkan kecuali melalui al-jihadu fi sabilillah dengan panglima Imam Mahdi. Wallahu a’lam bish-showwab.- (Eramuslim.com) (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak). Mereka sangat mengharapkan pertolongan Allah ta’aala semata dalam rangka menyambut zaman keemasan Islam penuh keadilan babak

Yahudi Gagal Membunuh Nabi Isa A.s.

Berbeda sekali dengan konsep keimanan seorang Kristen yang meyakini jika Nabi Isa a.s. atau Yesus Kristus meninggal karena disalib untuk menebus dosa umat manusia, maka kitab suci Al-Qur’an yang dijaga Allah SWT kemurnian dan kesuciannya sampai dengan hari akhir menyatakan jika yang disalib bukanlah Nabi Isa a.s., melainkan seseorang yang wajahnya diserupai Isa a.s. Sedangkan Isa a.s. sendiri diselamatkan Allah SWT dengan diangkatnya ke surga (QS. An-Nisaa: 157-158).Nabi Isa a.s. diturunkan ke tengah-tengah Bani Israil, kaumnya Nabi Musa a.s., untuk mengembalikan mereka ke jalan ketauhidan. Namun kaum Yahudi yang cenderung kepada kejahatan dan kesesatan, bahkan banyak melakukan pembunuhan terhadap para nabi Allah—Nabi Zakaria a.s. dibelah badannya, Nabi Yahya a.s. dipenggal kepalanya, dan sebagainya seperti yang dimuat dalam eramuslim digest edisi 6 “Genesis of Zionism: Jejak Berdarah Kaum Yahudi Sepanjang Masa (Bagian 1)”—malah menganggap Nabi Isa a.s. sebagai orang yang harus dibunuh karena telah menggoyahkan kedudukan istimewa mereka di tengah masyarakat yang telah berhasil ditipunya.

Para pendeta Yahudi yang tergabung dalam Dewan Pendeta Sanhendrin membujuk Raja Herodes untuk melakukan pengejaran terhadap Isa a.s. dan menangkapnya. Isa a.s. berhasil ditangkap dan hendak disalibkan. Namun Allah menolong Isa a.s. dan mengangkatnya ke surga. Dari hadist Nabi Muhammad SAW kita akan mengetahui jika menjelang akhir zaman, Isa a.s. akan kembali turun ke bumi di Menara Putih sebuah masjid di Damaskus, Syiria. Hal pertama yang dilakukan Isa a.s. ketika turun kembali ke bumi adalah sholat.

“Tidak ada seorang nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah;bahwa ia adalah seorang laki-laki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan meneteskan air walaupun ia tidak basah”. (HR Abu Dawud).

“Isa ibn Maryam akan turun di ‘Menara Putih’(Al-Mannaratul Baidha’) di Timur Damsyik”. (HR Thabrani dari Aus bin Aus)

“Sekelompok dari ummatku akan tetap berperang dalam dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa Ibn Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (Al-Mahdi): “ Kemarilah dan imamilah shalat kami”. Ia menjawab;”Tidak, sesungguhnya sebagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada ummat ini (ummat Islam)”. (HR Muslim & Ahmad).

“Tiba-tiba Isa sudah berada di antara mereka dan dikumandangkanlah shalat, maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam shalat) wahai ruh Allah.” Ia menjawab:”Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah ia yang mengimami shalat kamu”. (HR Muslim & Ahmad).

Hal pertama yang dilakukan Nabi Isa setelah turun dari langit adalah menuaikan shalat sebagaimana yang dijelaskan oleh hadist-hadist di atas. Nabi Isa akan menjadi makmum dalam shalat yang di imami oleh Imam Mahdi. Kedatangan Nabi Isa akan didahului oleh kondisi dunia yang dipenuhi kedzaliman, kesengsaraan dan peperangan besar yang melibatkan seluruh penduduk dunia. Setelah itu kemunculan Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kaum muslimin, kemudian kemunculan dajjal yang akan berusaha membunuh Imam Mahdi, setelah dajjal menyebarkan fitnahnya selama 40 hari, maka Nabi Isa akan diturunkan dari langit untuk menumpas dajjal.

Turunnya nabi Isa ke bumi mempunyai misi menyelamatkan manusia dari fitnah Dajjal dan membersihkan segala penyimpangan agama, ia akan bekerjasama dengan Imam Mahdi memberantas semua musuh-musuh Allah.

Dikisahkan setelah Isa as. selesaikan menunaikan shalat, ia berkata, “Keluarlah kamu (pasukan kaum muslimin) semua bersama kami untuk menghadapi musuh Allah, yaitu dajjal.” Lalu mereka pun keluar, kemudian Ia (Isa) dilihat oleh dajjal si laknat yang baru saja mendakwa kepada manusia, bahwa ia adalah raja yang mendapat petunjuk dan pemimpin yang jenius serta bijaksana, bahkan mengaku sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi. Begitu ‘Isa dilihat oleh dajjal, dajjal pun meleleh seperti garam yang meleleh di di air. Kemudian dajjal kabur, tetapi ia dihadang oleh Isa di pintu kota Lud di Palestina. Sekiranya Isa membiarkan saja hal ini maka dajjal akan hancur seperti garam dalam air, akan tetapi Isa berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku berhak untuk menghajar kamu dengan satu pukulan.” Lalu Isa as. menombak dan membunuhnya, maka Isa as. memperlihatkan kepada semua orang darah dajjal di tombaknya. Maka tahu dan sadarlah para pengikut dajjal dari kalangan Yahudi, bahwa dajjal bukanlah Allah. Jika benar apa yang didakwakan dajjal(dajjal mengaku sebagai tuhan) tentulah dajjal tidak akan dapat dibunuh oleh Nabi ‘Isa.

Ketika itu Nabi Isa a.s. menyeru kepada umat Kristiani untuk mengucapkan kalimat tauhid, kembali kepada jalan yang haq seperti apa yang telah disampaikannya ribuan tahun lalu sebelum agama Nasrani dirusak oleh tangan Yahudi bernama Paulus dari Tarsus.

Menurut suatu riwayat Nabi Isa, setelah turun dari langit akan menetap dibumi sampai wafatnya selama 40 tahun. Ia akan memimpin dengan penuh keadilan, sebagaimana yang diceritakan dalam hadist berikut: “Demi yang diriku berada ditangannya, sesungguhnya Ibn Maryam hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak upeti, melimpahkan harta sehingga tidak seorangpun yang mau menerima pemberian dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’I, Ibn Majah dari Abi Hurairah).

Juga dkisahkan bahwa Nabi Isa akan melaksanakan haji: ”Demi Dzat yang diriku berada ditanganya, sesungguhnya Ibn Maryam akan mengucapkan tahlil dengan berjalan kaki untuk melaksanakan haji atau umrah atau kedua-duanya dengan serentak”.(HR Ahmad & Muslim dari Abi Hurairah).

Nabi Isa a.s. akan meninggal setelah membunuh dajjal, menjadi pemimpin yang adil, dan membenarkan risallah yang dibawa Rasulullah Muhammad SAW di akhir zaman. Hanya saja kita tidak mengetahui kapan dan bilamana ini semua akan terjadi, karena Yahudi Talmudian terus-menerus bekerja siang-malam untuk menyesatkan umat manusia dari jalan kebenaran dengan membuat berita-berita palsu.
(Eramuslim.com)

Al Baqarah ( Ayat 261 – 273 )


مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل في كل سنبلة مئة حبة والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم(261)
الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله ثم لا يتبعون ما أنفقوا منا ولا أذى لهم أجرهم عند ربهم ولا خوف عليهم ولا هم يحزنون(262)
قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعها أذى والله غني حليم(263)
يا أيها الذين آمنوا لا تبطلوا صدقاتكم بالمن والأذى كالذي ينفق ماله رئاء الناس ولا يؤمن بالله واليوم الآخر فمثله كمثل صفوان عليه تراب فأصابه وابل فتركه صلدا لا يقدرون على شيء مما كسبوا والله لا يهدي القوم الكافرين(264)
ومثل الذين ينفقون أموالهم ابتغاء مرضات الله وتثبيتا من أنفسهم كمثل جنة بربوة أصابها وابل فآتت أكلها ضعفين فإن لم يصبها وابل فطل والله بما تعملون بصير(265)
أيود أحدكم أن تكون له جنة من نخيل وأعناب تجري من تحتها الأنهار له فيها من كل الثمرات وأصابه الكبر وله ذرية ضعفاء فأصابها إعصار فيه نار فاحترقت كذلك يبين الله لكم الآيات لعلكم تتفكرون(266)
يا أيها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم ومما أخرجنا لكم من الأرض ولا تيمموا الخبيث منه تنفقون ولستم بآخذيه إلا أن تغمضوا فيه واعلموا أن الله غني حميد(267)
الشيطان يعدكم الفقر ويأمركم بالفحشاء والله يعدكم مغفرة منه وفضلا والله واسع عليم(268)
يؤتي الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد أوتي خيرا كثيرا وما يذكر إلا أولوا الألباب(269)
وما أنفقتم من نفقة أو نذرتم من نذر فإن الله يعلمه وما للظالمين من أنصار(270)
إن تبدوا الصدقات فنعما هي وإن تخفوها وتؤتوها الفقراء فهو خير لكم ويكفر عنكم من سيئاتكم والله بما تعملون خبير(271)
ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء وما تنفقوا من خير فلأنفسكم وما تنفقون إلا ابتغاء وجه الله وما تنفقوا من خير يوف إليكم وأنتم لا تظلمون(272)
للفقراء الذين أحصروا في سبيل الله لا يستطيعون ضربا في الأرض يحسبهم الجاهل أغنياء من التعفف تعرفهم بسيماهم لا يسألون الناس إلحافا وما تنفقوا من خير فإن الله به عليم(273)

Tarjamah :

261.  Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
262.  Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, Kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
263.  Perkataan yang baik dan pemberian maaf[167] lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
264.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir[168].
265.  Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya Karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.
266.  Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, Kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya[169].
267.  Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
268.  Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia[170]. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.
269.  Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).
270.  Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan[171], Maka Sesungguhnya Allah mengetahuinya. orang-orang yang berbuat zalim tidak ada seorang penolongpun baginya.
271.  Jika kamu menampakkan sedekah(mu)[172], Maka itu adalah baik sekali. dan jika kamu menyembunyikannya[173] dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, Maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
272.  Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).
273.  (Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang Kaya Karena memelihara diri dari minta-minta. kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka Sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.

———————————————————–

[166]  pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
[167]  Perkataan yang baik maksudnya menolak dengan cara yang baik, dan maksud pemberian ma’af ialah mema’afkan tingkah laku yang kurang sopan dari si penerima.
[168]  mereka Ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.
[169]  inilah perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya Karena riya, membangga-banggakan tentang pemberiannya kepada orang lain, dan menyakiti hati orang.
[170]  balasan yang lebih baik dari apa yang dikerjakan sewaktu di dunia.
[171]  Nazar yaitu janji untuk melakukan sesuatu kebaktian terhadap Allah s.w.t. untuk mendekatkan diri kepada-Nya baik dengan syarat ataupun tidak.
[172]  menampakkan sedekah dengan tujuan supaya dicontoh orang lain.
[173]  menyembunyikan sedekah itu lebih baik dari menampakkannya, Karena menampakkan itu dapat menimbulkan riya pada diri si pemberi dan dapat pula menyakitkan hati orang yang diberi.

Translation :

261. The parable of those who spend their substance in the way of Allah is that of a grain of corn: it groweth seven ears, and each ear Hath a hundred grains. Allah giveth manifold increase to whom He pleaseth: And Allah careth for all and He knoweth all things.
262. Those who spend their substance in the cause of Allah, and follow not up their gifts with reminders of their generosity or with injury,-for them their reward is with their Lord: on them shall be no fear, nor shall they grieve.
263. Kind words and the covering of faults are better than charity followed by injury. Allah is free of all wants, and He is Most-Forbearing.
264. O ye who believe! cancel not your charity by reminders of your generosity or by injury,- like those who spend their substance to be seen of men, but believe neither in Allah nor in the Last Day. They are in parable like a hard, barren rock, on which is a little soil: on it falls heavy rain, which leaves it (Just) a bare stone. They will be able to do nothing with aught they have earned. And Allah guideth not those who reject faith.
265. And the likeness of those who spend their substance, seeking to please Allah and to strengthen their souls, is as a garden, high and fertile: heavy rain falls on it but makes it yield a double increase of harvest, and if it receives not Heavy rain, light moisture sufficeth it. Allah seeth well whatever ye do.
266. Does any of you wish that he should have a garden with date-palms and vines and streams flowing underneath, and all kinds of fruit, while he is stricken with old age, and his children are not strong (enough to look after themselves)- that it should be caught in a whirlwind, with fire therein, and be burnt up? Thus doth Allah make clear to you (His) Signs; that ye may consider.
267. O ye who believe! Give of the good things which ye have (honourably) earned, and of the fruits of the earth which We have produced for you, and do not even aim at getting anything which is bad, in order that out of it ye may give away something, when ye yourselves would not receive it except with closed eyes. And know that Allah is Free of all wants, and worthy of all praise.
268. The Evil one threatens you with poverty and bids you to conduct unseemly. Allah promiseth you His forgiveness and bounties. And Allah careth for all and He knoweth all things.
269. He granteth wisdom to whom He pleaseth; and he to whom wisdom is granted receiveth indeed a benefit overflowing; but none will grasp the Message but men of understanding.
270. And whatever ye spend in charity or devotion, be sure Allah knows it all. But the wrong-doers have no helpers.
271. If ye disclose (acts of) charity, even so it is well, but if ye conceal them, and make them reach those (really) in need, that is best for you: It will remove from you some of your (stains of) evil. And Allah is well acquainted with what ye do.
272. It is not required of thee (O Messenger), to set them on the right path, but Allah sets on the right path whom He pleaseth. Whatever of good ye give benefits your own souls, and ye shall only do so seeking the “Face” of Allah. Whatever good ye give, shall be rendered back to you, and ye shall not Be dealt with unjustly.
273. (Charity is) for those in need, who, in Allah’s cause are restricted (from travel), and cannot move about in the land, seeking (For trade or work): the ignorant man thinks, because of their modesty, that they are free from want. Thou shalt know them by their (Unfailing) mark: They beg not importunately from all the sundry. And whatever of good ye give, be assured Allah knoweth it well.


Source : Digital Qur’an Ver 3

Juz 3

3 Rabiul Awal 1429 H